Journey with Wulan
saat itu ada galian-galian dipinggir jalan yang telah direncanakan pemerintah didesaku, panjang banget sampai berkilo-kilometer jauhnya, ditiap galian itu bakalan dimasukin pipa gede banget, tempat penyaluran air,gak salah lagi karena galian-galian yang gede itu, jalanan jadi sempit dan macet. jalan raya yang biasanya bisa dilewati 2truk sekaligus, sekarang hanya bisa dilewati oleh 1truk saja, itupun harus amat sangat berhati-hati karena lubang galian ada dikanan kiri jalan. belum lagi macet total saat pagi dan siang hari, disaat lalu lintas padat-padatnya oleh murid-murid yang hendak pergi dan pulang sekolah.
bukan cuma galiannya saja yang merugikan pihak pengguna jalan, tapi pasir bekas galian itu ada dimana-mana.
saat itu hari selasa, aku ingat karena seperti biasa aku piket dan ada jadwal olahraga pagi.
karena telat bangun, ya... gak kapok-kapok minta dianterin bokap kesekolah. hari udah lumayan siang tapi mau gimana lagi? biasanya kalau sekolah 10menit sampai dengan motor tapi karena galian-galian dimana-mana jadi kira-kira 30menit waktu habis dijalan karena macet.
uh... sebel! gerutuku sambil memerhatikan jalanan kedepan yang masih macet.
tiba-tiba seorang pengendara motor lain maju kedepan kami, saat ia akan berhenti,jalanan yang licin karena pasir bekas galian masih berceceran disana-sini, membuat motornya gak bisa berhenti dan malah jatuh didepan motor yang dinaiki aku dan bokap.
dengan spontan aku menjerit ketakutan karena motor kami oleng.
bokap refleks nginjak rem tapi karena jalan memang licin kami hampir nabrak tuh pengendara motor.
bokap langsung membelokkan stang kekiri, semeter dari galian.
kenapa gak kekanan? masalahnya macet total,coy!
untung aja ada gundukan tanah yang membuat motor berhenti tepat waktu, kalau gak?
gak kebayang masuk kegalian sama bokap and motornya.
0 Responses

Posting Komentar