Aku berharap orang-orang menolongku tapi apa? mereka iba tapi tak tergerak untuk menolongku.
akhirnya, salah seorang pengemudi motor berhenti didepan kami, memberikan tumpangan kearah rumah sakit terdekat.
hujan semakin deras, membasahkan kami yang dilanda kebingungan yang teramat sangat. tubuhku yang menggigil dingin semakin dipeluk oleh bokap. luka pada kakiku yang menganga lebar dibekap erat agar darah tak menetes semakin banyak, tapi apa ada, darah tetap mengalir membasahi tangan bokap.
aku melihat luka pada kakiku yang menganga lebar, miris...
luka yang menganga lebar dibetis kananku memperlihatkan daging segar berwarna kemerahan. aku jijik, tapi inilah aku sekarang.
tak terasa kami telah sampai didepan rumah sakit, bokap langsung turun dan berlari menuju ugd. dokter dan perawat panik, takut kalau aku kenapa, tapi aku tak merasakan sakit sedikitpun.
inikah rasa sakit yang teramat sangat sampai-sampai aku tak merasakan apa-apa?
dokter panik karena persediaan obat bius habis, bokap langsung keluar berbicara dengan dokter. aku sendiri tidur tengkurap ditempat tidur karena luka dibetisku benar-benar parah. ditengah-tengah isakanku, seorang Pengunjung mendekatiku, memintaku bertahan. aku heran, tubuhku terasa bugar, mungkin karena lukaku yang parah, pengunjung itu mengira aku bakalan dijemput malaikat pencabut nyawa tapi aku baik-baik aja, luka yang parah ini gak berasa apapun.
akhirnya dokter dan beberapa perawat datang dan membersihkan lukaku, menjahitnya hingga lebih dari 30jahitan.
dokter bertanya padaku, apa aku merasa pusing karna benturan yang cukup kuat hingga kepalaku memar. aku segera menggeleng, aku ingin segera pulang, batinku.
nyokap tiba-tiba datang dan melihat lukaku sesaat sebelum diperban. nyokap berusaha menahan air matanya, aku tahu itu.
akhirnya setelah beberapa jam pemeriksaan aku segera pulang. sesaat aku melihat sosok lelaki yang berbaring. dia...
dia itu yang menabrakku... dia juga terluka, punggungnya dijarit, kepala juga... tapi tak separah aku!
sesaat aku dengar nyokap dan bokap bergumam, dia mabuk...
rasanya ingin mengumpat, memberikan sarapan sumpah serapah, karenanya aku cacat!
oh tuhan, ini benar-benar cobaan terberat dalam hidupku!
akhirnya, salah seorang pengemudi motor berhenti didepan kami, memberikan tumpangan kearah rumah sakit terdekat.
hujan semakin deras, membasahkan kami yang dilanda kebingungan yang teramat sangat. tubuhku yang menggigil dingin semakin dipeluk oleh bokap. luka pada kakiku yang menganga lebar dibekap erat agar darah tak menetes semakin banyak, tapi apa ada, darah tetap mengalir membasahi tangan bokap.
aku melihat luka pada kakiku yang menganga lebar, miris...
luka yang menganga lebar dibetis kananku memperlihatkan daging segar berwarna kemerahan. aku jijik, tapi inilah aku sekarang.
tak terasa kami telah sampai didepan rumah sakit, bokap langsung turun dan berlari menuju ugd. dokter dan perawat panik, takut kalau aku kenapa, tapi aku tak merasakan sakit sedikitpun.
inikah rasa sakit yang teramat sangat sampai-sampai aku tak merasakan apa-apa?
dokter panik karena persediaan obat bius habis, bokap langsung keluar berbicara dengan dokter. aku sendiri tidur tengkurap ditempat tidur karena luka dibetisku benar-benar parah. ditengah-tengah isakanku, seorang Pengunjung mendekatiku, memintaku bertahan. aku heran, tubuhku terasa bugar, mungkin karena lukaku yang parah, pengunjung itu mengira aku bakalan dijemput malaikat pencabut nyawa tapi aku baik-baik aja, luka yang parah ini gak berasa apapun.
akhirnya dokter dan beberapa perawat datang dan membersihkan lukaku, menjahitnya hingga lebih dari 30jahitan.
dokter bertanya padaku, apa aku merasa pusing karna benturan yang cukup kuat hingga kepalaku memar. aku segera menggeleng, aku ingin segera pulang, batinku.
nyokap tiba-tiba datang dan melihat lukaku sesaat sebelum diperban. nyokap berusaha menahan air matanya, aku tahu itu.
akhirnya setelah beberapa jam pemeriksaan aku segera pulang. sesaat aku melihat sosok lelaki yang berbaring. dia...
dia itu yang menabrakku... dia juga terluka, punggungnya dijarit, kepala juga... tapi tak separah aku!
sesaat aku dengar nyokap dan bokap bergumam, dia mabuk...
rasanya ingin mengumpat, memberikan sarapan sumpah serapah, karenanya aku cacat!
oh tuhan, ini benar-benar cobaan terberat dalam hidupku!

Posting Komentar